Kurangnya Karakter Minoritas dalam Buku Anak: Dampak dan Solusi

Data tahun lalu menunjukkan hanya 150 dari 2.189 judul buku anak di Inggris menampilkan karakter minoritas, tunak, atau neurodivergent. Artikel ini menelaah implikasi dan langkah konkret.

Tim Editorial King Santosa2 menit baca
Kurangnya Karakter Minoritas dalam Buku Anak: Dampak dan Solusi
Ilustrasi berita · The Guardian World

1. Angka yang Mencengangkan

Data yang baru saja dirilis menegaskan bahwa hanya 150 dari 2.189 judul buku anak yang diterbitkan di Inggris pada tahun lalu menampilkan karakter minoritas, tunak, atau neurodivergent. Persentase ini setara dengan kurang dari 7 persen. Lebih menakutkan lagi, jumlah karakter utama berkulit hitam mengalami penurunan sebesar 8 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Angka-angka ini menyoroti ketidakseimbangan yang masih kental dalam dunia penerbitan buku anak.

2. Faktor Penyebab Penurunan

Beberapa faktor dapat menjelaskan mengapa tren ini terjadi. Pertama, tekanan pasar yang menuntut buku dengan tema “mainstream” seringkali mengabaikan keberagaman. Kedua, kurangnya akses ke narasi yang autentik dari penulis minoritas membuat penerbit ragu untuk memproduksi karya tersebut. Ketiga, bias internal dalam proses seleksi editorial dapat memfilter ide-ide yang dianggap “berbeda” dari norma yang sudah mapan.

3. Dampak pada Pembaca Muda

Kurangnya representasi ini berdampak pada identitas dan empati anak-anak. Tanpa contoh karakter yang mencerminkan latar belakang mereka, anak-anak berisiko merasa terasing atau tidak diakui. Selain itu, pembaca non‑minoritas juga kehilangan kesempatan untuk memahami perspektif yang berbeda, yang penting untuk membangun toleransi sejak dini.

4. Peran Pendidikan dan Kurikulum

Sekolah dan perpustakaan memiliki peran strategis dalam mengatasi ketidakseimbangan ini. Dengan menambahkan koleksi buku yang lebih beragam ke dalam kurikulum, pendidik dapat memfasilitasi diskusi tentang keberagaman. Program swap‑book atau klub membaca yang menonjolkan karya minoritas juga dapat meningkatkan eksposur bagi semua siswa.

5. Inisiatif Industri dan Pemerintah

Beberapa lembaga penerbitan dan pemerintah telah meluncurkan inisiatif untuk mendorong keberagaman. Misalnya, beasiswa bagi penulis minoritas, kuota publikasi, dan kampanye kesadaran tentang pentingnya representasi. Namun, efektivitas program ini masih perlu dievaluasi secara berkala agar tujuan jangka panjang dapat tercapai.

6. Langkah Praktis bagi Penulis dan Penerbit

Penulis yang ingin menulis karakter minoritas dapat memulai dengan riset mendalam tentang budaya dan pengalaman yang akan digambarkan. Penerbit, di sisi lain, dapat memperluas jaringan editorial dengan melibatkan konsultan keberagaman dan membuka jalur bagi penulis baru. Kolaborasi antara penulis, penerbit, dan komunitas dapat menghasilkan karya yang lebih inklusif dan resonan.

Dengan memahami angka, penyebab, dan dampaknya, serta memanfaatkan inisiatif yang ada, kita dapat memajukan dunia buku anak menuju representasi yang lebih adil dan beragam.